REPUBLIKA.CO.ID, Zuhra Khatun (18 tahun) merupakan putri Abdul Amin.
Dia tinggal di kamp pengungsi Sittwe no.H-74 di Ohn Taw Gyi. Ibu muda
itu memiliki rasa sakit dan tak mampu melahirkan bayi.
Dia pun pergi ke Klinik Dar Paing untuk berobat pada 15 April 2014 pukul 4 sore. Hanya, dia tetap tidak bisa disembuhkan.
Kemudian,
dokter di klinik tersebut menjelaskan kepada Zuhra bahwa dia memiliki
dua bayi yang telah mati di rahimnya. Akan tetapi, dokter tak dapat
melakukan operasi karena peralatan yang terbatas. Dokter kemudian
merujuk Zuhra untuk dioperasi di Rumah Sakit Umum Sittwe untuk operasi.
Sebenarnya,
orang tua Zuhra melarang putrinya untuk pergi ke rumah sakit. Mereka
kerap mendengar informasi jika dokter di rumah sakit tersebut kerap
membunuh pasien Rohingya alih-alih mengobati pasien. Hanya, demi
menyembuhkan kesakitan yang diderita putrinya, Zuhra pun diizinkan
pergi.
Seorang polisi kemudian datang bersama aparat keamanan.
Mereka tiba di klinik dengan sebuah mobil. Mereka memberitahu orang tua
Zuhra jika putrinya akan segera sembuh dan kembali dari rumah sakit dua
hari setelah dirawat dan pulih kembali. Petugas meminta orang tua Zuhra
agar tidak khawatir.
Mustafa Begum (45 tahun), putra Muhammad, menemani Zuhra ke rumah
sakit. Mustafa merupakan pengungsi Rohingya di camp H-45 di Ohn Taw Gyi
(1). Mustafa kemudian menjadi saksi dari pembunuhan terhadap Zuhra yang
dilaporkan rvision, media yang memantau penanganan pengungsi Rohingya.
Mereka
tiba di Rumah Sakit Umum Sittwe pada pukul 5 sore, 15 April 2014.
Setelah tiba di rumah sakit, Zuhra langsung dibawa ke ruang rumah
sakit. Dokter di rumah sakit lantas mengambil tindakan operasi untuk
Zuhra. Dokter pun membiusnya hingga Zuhra tak sadar pada pukul 11 malam
pada 16 April 2014.
Saat sadar, dia kemudian dibawa ke Mustafa Begum. Mustafa pun melihat luka goresan dan lebam seperti habis dipukul.
Tim dokter kemudian mengambil mayat bayi dari rahim Zuhra. Dokter
menggunakan sejumlah peralatan medis untuk menambah cedera di tubuh
Zuhra. Mustafa mencoba mencegah, hanya dokter mengabaikan saran Mustafa.
Usai operasi sesar, seorang petugas kebersihan datang dan
menggeletakkan mayat bayi di dalam plastik itu di lantai. Petugas
tersebut meminta Mustafa untuk melempar mayat itu ke kamar jenazah.
Kondisi
Zuhra pun semakin parah karena dokter tidak membiarkan makanan dan
minuman masuk ke tubuhnya. Pada 24 April 2014, pukul 4 sore, dokter tiba
di kamar Zuhra. Dia lalu mulai mengeluarkan peralatannya untuk menambah
luka di sekitar tubuh Zuhra.
Mustafa mencoba mencegah. Dokter tidak mendengarkan dan tetap saja
menyiksa Zuhra. Pasien itu kemudian menangis karena kesakitan. Menurut
Mustafa, dokter lalu marah dan mengeluarkan suntikan. Dia kemudian
menyuntik Zuhra. Usai disuntik, Zuhra mengeluarkan napas terakhir dan
tewas seketika.
Selasa, 29 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar